Anda ingin melihat contoh proposal tesis? Silahkan buka contoh yang kami sajikan ini.
BAB I
PENDAHULUAN

Pada bab I ini dipaparkan mengenai hal-hal yang terkait dengan latar belakang penelitian yang terdiri (1) latar belakang masalah, (2) Rumusan masalah, (3) Tujuan penelitian, (4) Hipotesis, (5) Asumsi, (6) Ruang lingkup dan keterbatasan, (7) Kegunaan penelitian, dan (8) Penegasan istilah.
1.1 Latar Belakang Masalah
Pembelajaran bahasa Indonesia selama ini sangat kurang melatih anak dalam keterampilan menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Siswa lebih banyak diberi pengetahuan dan aturan-aturan tata bahasa tanpa pernah tahu bagaimana mengaitkan-nya dalam latihan-latihan menulis dan berbicara. Siswa lebih banyak diberi bekal pengetahuan bahasa daripada dilatih menggunakan bahasa. Akibatnya, setelah mere-ka lulus, mereka tetap tidak mampu menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomu-nikasi, baik untuk komunikasi tulis maupun lisan (Muchlishoh, 1992:1).
Pembelajaran bahasa Indonesia, yang menyangkut aspek keterampilan menyi-mak, berbicara, dan menulis sampai sekarang hasilnya dianggap belum makasimal. Sejak tahun 1960-an banyak suara dimasyarakat yang menyatakan ketidakpuasannya terhadap hasil-hasil pembelajaran bahasa Indonesia (Burhan, 2001:43). Kemampuan berbahasa Indonesia para siswa atau lulusan sekoalah menengah sangat rendah dan sangat memprihatinkan.
Dalam realitas pembelajaran menulis di sekolah menengah pertama masih ba-nyak dijumpai model strategi pembelajaran yang terlalu konvensional. Sehingga mendorong guru maupun sekolah untuk cenderung tidak kreatif dan inovatif karena terkekang oleh satu model strategi pembelajaran saja. Namun demikian, tidak di-pungkiri juga bahwa banyak juga sekolah sudah menerapkan berbagai strategi pem-belajaran yang dianggap efektif. Pada kenyataannya, justru dengan keanekaragaman model tersebut semakin mendorong guru atau sekolah untuk sekedar mencari nama yang terbaik. Jadi, guru maupun sekolah masih terpola untuk menjadikan satu model strategi pembelajaran sebagai suatu patokan yang baku dan kaku, bukan sebagai sa-rana untuk peningkatan variasi pembelajaran dan sarana kreatif guru..
Secara realitas, pembelajaran bahasa Indonesia (menulis) di SMP NEGERI 2 Ngawi belum mampu membuat anak berkemampuan menulis. Upaya yang dilakukan guru bahasa Indonesia tampaknya terus dilakukan baik melalui bimbingan belajar maupun penerapan metode pembelajaran. Dan dalam hal penggunaan metode pembelajaran ini SMP Negeri 2 Ngawi telah mencobakan beberapa metode pembelajaran seperti Kooperatif STAD, Jigsaw, Inkuiri dan lain-lain. Dan sebagaimana telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya bahwa dalam hal meningkatkan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran bahasa Indonesia utamanya dalam menulis pengalaman pribadi metode inkuiri sangat baik dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Namun demikian secara kuantitatif keefektifan metode inkuiri tersebut belum bisa dibuktikan kebenarannya.
Strategi inkuiri mupakan strategi pembelajaran yang melibatkan siswa dan menemukan sesuatudan memecahkan masalah. Strategi inkuiri membantu siswa me-ngembangkan disiplin dan ketrampilan intelektual, yang diperlukan untuk memun-culkan masalah dan mencari jawabannya sendiri melalui rasa keingintahuannya sen-diri. Dengan demikian strategi ini dapat meningkatkan cara berfikir kritis dan memi-
cu siswa mendapatkan pengetahuan yang seluas-luasnya.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti akan melakukan sebuah penelitian yang bertujuan untuk mengetahui keefektifan metode inkuiri di dalam meningkatkan kemampuan menulis pengalaman pribadi pada siswa kelas VII SMP NEGERI 2 Ngawi. Strategi inkuri merupakan salah satu strategi pembelajaran yang mengedepankan kemandirian siswa dalam melakukan proses belajar. Strategi ini merupakan bagian dari implementasi pendekatan kontekstual. Strategi ini juga menerapkan pola berpilir kritis, kreatif, sistamtis, dan ilmiah. Tujuan utamanya agar siswa memiliki kemampuan dalam mencari, memproses, dan menyerap informasi dari sesuatu yang sang dipelajari.
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti menganggap bahwa penelitian yang berjudul Keefektifan Strategi Inkuiri dalam Meningkatkan Kemampuan Menulis Pengalaman pribadi pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Ngawi Tahun Pelajaran 2008/2009 , layak untuk dilaksanakan.
1.3 Rumusan Masalah
Mengacu pada kontek peneliltian dan fokus penelitian maka masalah pene-litian ini secara umum dapat dirumuskan sebagai berikut.
Bagaimanakah keefektifan strategi inkuiri dalam meningkatkan kemampuan menulis pengalaman pribadi pada siswa kelas VII SMP Negeri 2 Ngawi tahun pelajaran 2008/2009 ?
Dari rumusan masalah secara umum tersebut maka masalah dapat dirumuskan secara khusus sebagai berikut.
1) Apakah siswa yang diajar dengan menggunakan strategi inkuiri memiliki kemampuan menulis pengalaman pribadi lebih baik dibanding dengan siswa yang diajar dengan menggunakan strategi pembelajaran yang konvensional pada siswa kelas VII SMP Negeri 2 Ngawi tahun pelajaran 2008/2009?
2) Apakah strategi inkuiri mampu meningkatkan kemampuan menulis pengalaman pribadi pada siswa kelas VII SMP Negeri 2 Ngawi tahun pelajaran 2008/2009?
1.4 Tujuan Penelitian
Secara umum tujuan penelitian ini adalah mengetahui keefektifan strategi inkuiri dalam meningkatkan kemampuan menulis pengalaman pribadi pada siswa kelas VII SMP Negeri 2 Ngawi tahun pelajaran 2008/2009 . dan secara khusus tujuan penelitian ini dapat dirumuskan yakni.
1) Untuk memperoleh perian tentang perbedaan siswa yang diajar dengan menggunakan strategi inkuiri antara kelompok eksperimen dan kelompok control dalam menulis pengalaman pribadi pada siswa kelas VII SMP Negeri 2 Ngawi tahun pelajaran 2008/2009.
2) Untuk memperoleh perian tentang keefektifan strategi inkuiri dalam meningkatkan kemampuan menulis pengalaman pribadi pada siswa kelas VII SMP Negeri 2 Ngawi tahun pelajaran 2008/2009
1.5 Hipotesis
Untuk memperjelas arah penelitian, perlu dirumuskan hipotesis sebagai jawaban sementara terhadap rumusan masalah. Dalam penelitian ini hipotesis yang
diajukan adalah :
1) Hipotesis Null (Ho)
Tidak ada perbedaan siswa yang diajar dengan menggunakan strategi inkuiri dalam menulis pengalaman pribadi lebih baik dibandingkan dengan siswa yang belajar melalui pembelajaran konvensional pada siswa kelas VII SMP Negeri 2 Ngawi tahun pelajaran 2008/2009.
2) Hipotesis Alternatif (Ha)
Ada perbedaan siswa yang diajar dengan menggunakan strategi inkuiri dalam menulis pengalaman pribadi lebih baik dibandingkan dengan siswa yang belajar melalui pembelajaran konvensional pada siswa kelas VII SMP Negeri 2 Ngawi tahun pelajaran 2008/2009.
1.6 Asumsi Penelitian
Penelitian ini dilandasi oleh adanya beberapa asumsi berikut.
(1) Pembalajaran keterampilan menulis pengalaman pribadi pada siswa kelas VII
SMP Negeri 2 Ngawi merupakan salah satu implementasi dari pembelajaran bahasa Indonesia berdasarkan kurikulum Bahasa Indonesia sehingga standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator berdasarkan kurikulum sesuai dengan kurikulum bahasa Indonesia sekolah menengah.
(2) Strategi inkuiri dapat digunakan sebagai sebagai varian penggunaan metode pembelajaran menulis pengalaman pribadi kelas VII SMP Negeri 2 Ngawi melalui penggunaan strategi inkuiri ini siswa dapat lebih termotivasi dan kreatif di dalam mengembangkan gagasan dalam menulis pengalaman pribadi
(3) Strategi inkuiri sebagai alternatif penggunaan strategi pembelajaran dapat digunakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia dalam menulis pengalaman pribadi pada siswa kelas VII SMP
(4) Pembelajaran menulis pengalaman pribadi dengan menggunakan strategi inkuiri dapat dilaksanakan dalam tahapan-tahapan, yakni pra-menulis, pemburaman, perevisian, dan penyuntingan.
1.7 Ruang Lingkup dan Keterbatasan
1.7.1 Ruang Lingkup
Ruang lingkup dalam penelitian ini mengacu pada hal-hal sebagai berikut.
1) Penelitian ini berfokus pada keefektifan penggunaan stategi inkuiri dalam pembelajaran menulis pengalaman pribadi .
2) Pembelajaran menulis pengalaman pribadi dalam penelitian ini meliputi beberapa tahapan menulis di antaranya pra-menulis, pemburaman, perevisian, dan penyuntingan.
3) Sebagai populasi atau subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 2 Ngawi semester 2 tahun pelajaran
1.6.2 Keterbatasan
Ada beberapa hal yang menjadi keterbatasan dalam penelitian ini, sehingga tidak diperhatikan oleh peneliti. Keterbatasan tersebut meliputi hal-hal berikut.
1) Jenis kelamin dan usia siswa kelas VII SMP Negeri 2 Ngawi .
2) Latar belakang sosial, ekonomi, dan geografis orang tua siswa kelas VII SMP Negeri 2 Ngawi .
3) Tingkat kehadiran dan kedisiplinan siswa sebelum penelitian ini dilakukan.
5) Pengambilan data hanya dibatasi pada jam pelajaran bahasa Indonesia dan hanya dalam kurun waktu yang terbatas, sehingga data yang diperoleh tidak sepenuhnya mencerminkan kemampuan menulis pengalaman pribadi dari subjek penelitian secara komprehensif. Hal tersebut didasarkan pada kenyataan kemampuan menulis pengalaman pribadi siswa tumbuh dalam proses yang panjang dan terus menerus.
1.8 Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis mau-pun praktis. Secara teoritis, hasil penelitian ini dapat memberikan dasar konseptual bagi pengembangan teori pembelajaran ketrampilan menulis di SMP. Selain itu, hasil ini juga juga dapat memperkaya prinsip-prinsip penerapan strategi inkuiri dalam me-nulis pengalaman pribadi yang menarik.
Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat pada pi-hak-pihak antara lain guru, siswa dan peneliti lai. Bagi guru, hasil penelitaian ini da-pat bermanfaat sebagai tambahan pengetahuan dan pengalaman praktis dalam melak-sanakan pembelajaran menulis serta merupakan pengalaman nyata dalam menyusun strategi pembelajaran menulis dan titik awal untuk mengembangkan model pembe-lajaran yang lain. Bagi Siswa, penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kom-petensi siswa dalam menulis pengalaman pribadi dan menumbuhkan minat belajar siswa dalam menulis. Sedangkan bagi peneliti lain, hasil penelian ini dapat dijadikan satu perban-dingan guna mengembangkan penelitian sejenis dengan subjek, objek, dan sasaran penelitian yang lebih luas.

1.9 Batasan Istilah
Dalam rangka menghindari kesalahan dalam menafsirkan beberapa istilah yang secara operasional digunakan dalam penelitian ini, berikut dikemukakan bebe-rapa definisi istilah.
1) Keefektifan
Keefektifan berasal dari kata efektif yang artinya ada efeknya (pengaruhnya, akibatnya, kesannya), manjur, mempan (Poerwadarminta, 1986:266). Dengan demikian maka keefektifan merujuk pada tingkat pengaruh/akibat yang ditimbulkan.
2) Peningkatan adalah usaha yang dilakukan untuk membuat lebih dari yang biasa dilakukan atau membuat lebih baik/lebih meningkat kualitasnya dari yang sebe-lumnya.
3) Kemampuan menulis adalah kecakapan yang dimiliki seseorang untuk melakukan aktifitas komunikasi melalui tulisan yang bertujuan untuk menyampaikan gaga-san dengan menggunakan bahasa dan lambang grafis yang dapat dipahami oleh orang lain.
3) Menulis pengalaman pribadi adalah salah satu materi pembelajaran bahasa Indonesia di kelas VII yang berupa tulisan pengalaman pribadi yang berisi peristiwa, kejadian, atau hal-hal yang pernah terjadi pada diri sendiri dan bersifat menyenangkan, meyedih-kan, dan mengharukan.
4) Strategi inkuiri adalah prosedur pembelajaran yang melibatkan siswa dalam menemukan sesuatu dan memecahkan masalah, yang menekankan pada kegiatan
mengamati, bertanya, menduga, mendata dan menyimpulkan.
5) Pramenulis adalah tahap awal dalam menulis yang mengarahkan siswa dalam mencurahkan topik sesuai tema, memilih topik, mengembangkan topik, dan me-nyusun kerangka wacana argumentasi.
6) Pengedrafan adalah tahap menulis yang mengarahkan siswa pada proses penu-angan ide-ide secara tertulis berdasarkan pemahaman bentuk wacana argumentasi melalui pengembangan kerangka yang telah disusun.
7) Perbaikan adalah tahap menulis yang mengarahkan siswa pada menata kembali pengembangan gagasan dan menambah, mengganti, menghilangkan kata/frase atau kalimat yang kurang lengkap/tidak tepat.
7) Penyuntingan adalah tahap menulis yang mengarahkan siswa untuk membetulkan kesalahan penggunaan ejaan dan tanda baca serta pilihan kata.

BAB II
KAJIAN KEPUSTAKAAN

Prinsip-prinsip yang dikemukakan berikut ini memiliki keterbatasan. Keterbatasan tersebut disebabkan oleh (1) terbatasnya buku-buku acuan yang bisa dijangkau oleh peneliti dan (2) terbatasnya kemampuan peneliti menjangkau buku-buku acuan. Karena itu pemahaman prinsip teoristis ini yang, berimplikasi terhadap pemahaman bagian-bagian yang lain, harus dilihat dari segi keterbatasan tersebut. Prinsip-prinsip teoristis yang lain, terutama yang berbeda atau yang bertentangan, dalam penelitian ini diabaikan.
2.1 Kegiatan Menulis
2.1.1 Pengertian Menulis
Menulis adalah suatu aktivitas komunikasi yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Ujudnya adalah berupa tulisan yang terdiri dari rangkaian huruf yang bermakna dengan segala kelengkapannya, seperti ejaan, dan tanda baca. Menulis juga merupakan suatu proses penyampaian gagasan, pesan, sikap, dan pendapat kepada pembaca dengan lambang bahasa yang dapat dilihat dan di-sepakati bersama oleh penulis dan pembaca (Akhadiyah,1997:1.3).
Menurut Takala (dalam Ahmadi, 1990: 24), membuat ringkasan menulis seperti berikut ini. Menulis adalah suatu proses menyusun, mencacat, dan meng-komunikasikan makna dalam tataran ganda, bersifat interaktif dan diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu dengan menggunakan sistem tanpa konvensional yang dapat dilihat atau dibaca. Lebih lanjut, JN Hook (dalam Ahmadi,1989:325) menyatakan bahwa menulis merupakan suatu medium yang penting bagi ekspresi diri, untuk ekspresi bahasa, dan untuk menemukan makna. Lebih luas, Murray (dalam Ahmadi,1989:3) mengemukakan bahwa menulis adalah proses berpikir yang berkesinambungan, mencobakan, dan mengulas kembali. Menurut Rubin (dalam Ahmadi,1989:128), menulis merupakan proses penuangan ide dalam bentuk tertulis. Substansi retorika menulis adalah penalaran yang baik. Ini berarti bahwa sebelum atau saat setelah menuangkan gagasan, pikiran, dan perasaan secara tertulis diperlukan keterlibatan proses berpikir. Menulis dalam pembela-jaran merupakan aktivitas yang menggunakan proses berpikir.
Berdasarkan beberapa pendapat tentang pengertian menulis dapat
disimpulkan bahwa menulis merupakan proses berpikir yang mempunyai sejum-lah esensi yaitu mengingat, menghubungkan, memprediksi, mengorganisasikan, membayangkan, memonitor, mereview, mengevaluasi dan menerapkan. Sehingga dengan proses berpikir tersebut akan terwujud suatu tulisan yang berkualitas.
2.1.2 Tujuan Menulis
Orang menulis mempunyai maksud dan tujuan yang bermacam-macam, misal-nya memberitahukan atau mengajar, meyakinkan atau mendesak, menghibur atau menyenangkan, dan mengutarakan atau mengekspresikan perasaan atau emosi (Tari-gan, 1986:23). Meskipun tujuan menulis sangatberagam. Hart dan Reinking berpen-dapat, tujuan umum menulis hanya dua yaitu menginformasikan (to inform) dan me-yakinkan (to Persuade). Gie juga berpendaat bahwa tujuan ornag mengarang pada dasarnya ada dua tipe, akan tetapi pendapat Gie berbeda dengan pendapat Hart dan Reinking tersebut, karena menurutnya dua tipe tujuan mengarang itu adalah (1) memberi informasi, memberitahukan sesuatu, dan (2) memberi liburan, menggerak-kan hati (Gie, 1992:24).
Secara umum seseorang yang menulis memiliki empat tujuan, yaitu: untuk menginformasikan, membujuk, mendidik dan menghibur. Dari empat tujuan terse-but, tujuan pertama dan utama dari menulis adalah menginformasikan segala sesuatu, baik itu fakta, data, maupun peristiwa termasuk pendapat, dan pandangan terhadap fakta, data dan peristiwa tersebut agar khalayak pembaca memperoleh pengetahuan dan pemahaman baru tentang berbagai hal yang terdapat maupun yang terjadi di muka bumi ini.
Secara umum hakikat keterampilan berbahasa memang berorientasi pada pelatihan penggunaan bahasa dan pada siswa sebagai subyek belajar. Tujuan primer pembela-jaran keterampilan berbahasa Indonesia adalah peningkatan kemampuan siswa dalam penggunaan bahasa Indonesia untuk berbagai tujuan, keperluan dan keadaan (Budinuryanta dkk, 1997:1.4–1.7). Hal tersebut sesuai dengan salah satu rambu – rambu pemelajaran bahasa Indonesia yang menyatakan bahwa belajar bahasa pada hakikatnya belajar berkomunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, baik secara lisan maupun tertulis.
2.1.3 Jenis Tulisan
Dari beragamnya tujuan menulis, maka dapatlah dikatakan bahwa bentuk-ben-tuk atau jenis tulisan akan mengarah pada jenis tulisan yang bersifat menginformasi-kan, membujuk, mendidik dan menghibur. Jenis – jenis tulisan seperti itu dalam du-nia tulis menulis lebih dikenal dengan narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi dan persuasi (Akhadiah, dkk, 1989:14– 5).
Narasi adalah ragam tulisan/wacana yang menceritakan proses kejadian suatu peristiwa. Sasarannya adalah memberikan gambaran yang sejelas-jelasnya kepada pembaca mengenai fase, langkah, urutan atau rangkaian terjadinya sesuatu hal. Ben-tuk tulisan ini dapat ditemukan misalnya pada karya prosa atau drama, biografi atau otobiografi, laporan peristiwa, serta resep atau cara membuat dan melakukan sesuatu.
Deskripsi (pemeran) adalah ragam tulisan yang melukiskan atau menggambar-kan sesuatu berdasarkan kesan – kesan dari pengamatan, pengalaman, dan perasaan penulisnya. Sasarannya adalah menciptakan atau memungkinkan terjadinya imajinasi (daya khayal) pembaca, sehingga dia seolah – olah melihat, mengalami dan merasa-kan sendiri apa yang dialami penulisnya.
Eksposisi atau pemaparan adalah ragam tulisan yang dimaksudkan untuk me-nerangkan, menyampaikan, atau menguraikan sesuatu hal yang dapat memperluas atau menambah pengetahuan dan pandangan pembacanya. Sasarannya adalah meng-informasikan sesuatu tanpa ada maksud mempengaruhi pikiran, perasaan dan sikap pembacanya. Fakta dan ilustrasi yang disampaikan penulis sekedar memperjelas apa yang disampaikannya.
Argumentasi adalah ragam tulisan yang dimaksudkan untuk meyakinkan pem-baca mengenai kebenaran yang disampaikan oleh penulisnya. Karena tujuannya meyakinkan pendapat atau pemikiran pembaca, maka penulis akan menyajikan secara logis, kritis dan sistematis disertai bukti-bukti yang ada untuk memperkuat ke-
objektifan dan kebenaran yang disampaikannya, sehingga dapat menghapus konflik
dan keraguan pembaca terhadap pendapat penulis. Contoh karangan seperti ini ada-lah hasil penilaian, pembelaan dan timbangan buku.
Persuasi adalah ragam tulisan yang ditujukan untuk mempengaruhi sikap dan pendapat pembaca mengenai sesuatu hal yang disampaikan penulisnya. Berbeda dengan argumentasi yang pendekatannya bersifat rasional dan diarahkan untuk mencapai suatu pembenaran, persuasi lebih menggunakan pendekatan emosional. Seperti argumentasi, persuasi juga menggunakan bukti – bukti atau fakta. Hanya saja, dalam persuasi bukti – bukti itu digunakan seperlunya atau kadang-kadang dimanipulasi untuk menimbulkan kepercayaan pada diri pembaca, bahwa apa yang disampaikan penulis itu benar. Contoh karangan ini adalah propaganda, iklan, selebaran atau kampanye.
Dari uraian di atas dapatlah dikatakan apapun wujud sebuah tulisan, di alamnya akan terdapat fakta, emosi, sikap dan isi pikiran seorang penulis. Hal tersebut juga dibenarkan oleh Hadiyanto (2001:9–10) yang menyatakan bahwa apapun juga moti-vasinya, tulis menulis selalu selalu berhubungan dengan usaha atau kegiatan yang dilakukan oleh seorang penulis untuk mengungkapkan fakta-fakta, perasaan, sikap dan isi pikirannya secara jelas dan efektif, kepada pembaca. Selanjutnya dikatakan bahwa menulis akan berbeda dengan mengarang. Menulis buah karnya berupa tulisan non-fiksi, sedangkan mengarang buah karyanya berupa tulisan fiksi seperti cerpen, cerbung atau novel, yang umumnya dihasilkan oleh para sastrawan.
Klasifikasi yang berbeda dibuat oleh Adelstein dan Piva. Mereka membuat klasifikasi tulisan berdasarkan nada (voice). Berdasarkan nada, terdapat enam jenis tulisan yakni (1) tulisan bernada akrab, (2) tulisan bernada informatif, (3) tulisan bernada menjelaskan, (4) tulisan bernada argumentatif, (5) tulisan bernada meng-kritik, dan (6) tulisan bernada otoritatif (Tarigan, 1986:28–29). Keenam jenis tulisan tersebut dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut:
2.1.4 Hakikat Pembelajaran Keterampilan Menulis
Mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia mempunyai fungsi yang sejalan
dengan kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa rasional dan bahasa negara. Ada lima fungsi mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, yaitu sebagai sarana (1) pembinaan kesatuan dan persatuan bangsa, (2) peningkatan pengetahuan dan kete-rampilan berbahasa Indonesia dalam rangka pelestarian dan pengembangan budaya, (3) peningkatan pengetahuan dan keterampilan berbahasa Indonesia untuk meraih dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (4) penyebarluasan pe-makaian bahasa Indonesia yang baik untuk berbagai keperluan menyangkut berbagai masalah, (5) pengembangan penalaran (Depdikbud, 2003:76). Hakikat pembelajar-an keterampilan berbahasa memang berorientasi pada pelatihan penggunaan bahasa dan pada siswa sebagai subyek belajar. Tujuan primer pembelajaran keterampilan berbahasa Indonesia adalah peningkatan kemampuan siswa dalam penggunaan baha-sa Indonesia untuk berbagai tujuan, keperluan dan keadaan (Budinuryanto dkk, 1998:141). Hal tersebut sesuai dengan salah satu rambu pembelajaran bahasa Indo-nesia yang menyatakan bahwa belajar pada hakikatnya adalah belajar berkomunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan ke-mam-puan siswa dalam berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia, baik secara lisan maupun tertulis. Hal itu dikemukakan di dalam kurikulum (Depdikbud, 1993b:21).
Orientasi pada pelatihan penggunaan bahasa diandai oleh adanya kegiatan yang secara langsung melatih siswa berbahasa yang mendominasi sebagaian besar waktu belajar. Sedikitnya, dua pertiga dari waktu belajar digunakan berlatih berbahasa (Budinuryanto dkk, 1998:105).
Dalam kegiatan menulis, siswa perlu disadarkan bahwa ada berbagai kemung-kinan cara penataan atau penyusunan kata. Oleh karena itu, penting sekali siswa mendapat kesempatan saling membaca hasil tulisan sesama teman. Dalam kegiatan menulis termasuk kegiatan menemukan kesalahan dalam menulis (dalam berbagai bidang: ejaan, tanda baca, kelengkapan dan kejelasan kalimat, pemilihan kata) dan cara memperbaikinya (Purwo, 1997:7–8).
Kegiatan yang mendukung peningkatan keterampilan menulis adalah kegiatan banyak membaca (Purwo, 1997:7-8). Semi (1990:8) berpendapat penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Kemampuan membaca dan menyimak memberi tiga ke-untungan bagi kemampuan menulis, yaitu (1) dapat memperoleh ide, memperkaya ide dari berbagai sumber informasi, (2) dapat mengetahui selera pembaca ; (3) dapat belajar menulis dengan jalan pintas. Orang tidak mungkin menjadi penulis yang baik bila sebelumnya tidak memiliki kemampuan membaca dan menyimak yang baik. Se-lain itu, kegiatan menulis sama sekali tidak dipisahkan dengan kegiatan membaca dan menyimak (Semi, 1990:8-9).
Kegiatan menulis dapat dipadukan dengan kegiatan membaca, misalnya melan-jutkan isi teks yang belum selesai, merangkai sejumlah kalimat yang belum tertata secara urut dan runtut sehingga menjadi paragraf yang baik atau menata kembali urutan paragraf.
Akhadiah dkk (1989:2–3) berpendapat proses menulis terdiri dari tiga tahap yaitu tahap prapenulisan, penulisan, dan revisi. Ketiga tahap tersebut menunjukkan kegiatan utama yang berbeda. Akan tetapi, dalam praktiknya, ketiga tahap penulisan itu tidak dapat dipisahkan secara jelas, dan sering bertumpang tindih.
Menulis merupakan keterampilan berbahasa yang kedua setelah berbicara da-lam komponen pembelajaran penggunaan. Pembelajaran menulis merupakan pem-belajaran keterampilan penggunaan bahasa Indonesia dalam bentuk tertulis. Kete-rampilan ini merupakan hasil dari keterampilan menyimak, berbicara dan membaca.
Dalam pembelajaran menulis perlu diperhatikan prinsip–prinsip pembelajaran-nya yang meliputi: (1) menulis tidak dapat dipisahkan dari membaca. Pada jenjang pendidikan dasar pembelajaran menulis dan membaca terjadi serempak, (2) pembela-jaran menulis adalah pembelajaran disiplin berpikir dan disiplin berbahasa, (3) pem-belajaran menulis adalah pembelajaran tata tulis atau ejaan bahasa Indonesia, dan (4) pembelajaran menulis berlangsung secara berjenjang bermula dari menyalin sampai dengan menulis ilmiah.
2.1.5 Metode Pembelajaran Keterampilan Menulis
Metode pembelajaran bahasa, khususnya menulis telah mengalami perkem-bangan yang pesat. Dengan hadirnya metode humanistik, pembelajaran bahasa sema-kin mendekati harapan. Dalam pembelajaran menulis kini muncul empat metode yang bagus untuk kegiatan tersebut. Keempat metode itu adalah (1) community Language Learning, (2) Metode Suggestopedy, (3) Metode Total Physical Response dan (4) metode The Silent Way (Kormen, 1997:6-7).
Penyelenggaraan pembelajaran bahasa senantiasa dipengaruhi oleh pendekatan tertentu dalam ilmu bahasa. Kadang – kadang seluruh penyelenggaraan pembela-jarannya bahkan dirancang atas dasar pendekatan yang digunakan sebagai acuan po-kok itu. Pendekatan itu akan mempengaruhi penentuan tujuan pembelajaran, metode pembelajaran, dan bahan pembelajaran dan sebagainya (Djiwandono, 1997:7).
Beberapa pendekatan yang berpengaruh besar dalam pembelajaran bahasa, yak-ni pendekatan struktural, pendekatan kognitif dan pendekatan komunikatif. Pende-katan struktural menitikberatkan pembelajaran bahasa pada pengetahuan atau kaidah tata bahasa. Pembelajaran materi pelajaran berupa butir-butir gramatikal (tata baha-sa) yang disusun berdasarkan tahapan – tahapan. Pendekatan ini memberi kesem-patan kepada siswa untuk berlatih menggunakan bahasa (Muchlisoh dkk, 1992:7). Beberapa metode pembelajaran bahasa yang lahir berlatar belakang pendekatan struktural misalnya metode langsung (direct method) yang juga dikenal dengan berbagai nama yaitu New Method, reform method, natural method, oral method, metode berlitz (Berlitz Method) metode membaca (Reading method), metode pembelajaran.
Metode pembelajaran bahasa yang berhubungan dengan pembelajaran kete-rampilan menulis di sekolah dasar dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yakni metode menulis permulaan dan metode menulis lanjutan.
Kurikulum 1994 tidak menyajikan secara khusus dan menyarankan pemakaian metode tertentu. Hal ini mengandung maksud agar guru dapat memilih metode yang dianggap tepat, sesuai dengan tujuan, bahan, dan keadaan siswa (Depdikbud, 2003: 27). Meskipun demikian, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan beberapa buku petunjuk yang menginformasikan berbagai metode pemelajaran bahasa yang dapat digunakan.
2.1.6 Tahapan Menulis
Kegiatan menulis meliputi serangkaian aktivitas yang berkesinambungan. Sebagaimana dikemukakan Tompkins (1994:126) rangkaian kegiatan atau tahapan menulis yaitu pra-penulisan, pemburaman, perbaikan, penyuntingan, dan pempubli-kasi. Sesangkan menurut Britton (dalam Tompkins, 1994:8) rangkaian aktivitas itu meliputi konsepsi (conception), inkubasi (incubation), dan produksi (production). Rangkaian aktivitas dalam proses menulis ii tidak bersifat mutlak dan konstan, tetapi bersifat fleksibel dan luwes. Lebih lanjut, diyatakan babwa rangkaian aktivitas terse-but tidak dilaksanakan secara linier, tetapi bersifat rekursif-simultan. Artinya secara simultan penulis senantiasa dapat melakukan pemaduan antar-tahap yakni dengan cara pada satu tahapan menulis dilakukan, penulis dapat kembali pads tahapan sebelumnya.
Tahapan-tahapan dalam menulis sebagaimana dikemukakan Arief (2006:22-23) dikemukakan sebagai berikut.
1. Tahap pra-menulis meliputi memilih terra, memilih topik/subtopik, mengumpul¬mengorgonisasikan bahan, menentukan tujuan tulisan, menentukan sasaran tulisan, menentukan bentuk/jems tulisan,
2. Tahap pengedrapan /pemburaman meliputi menentukan komposisi topik dan sub topik, menentukan ide pokok dan pengembang, menyusun kerangka tulisan, me¬ngembangkan kahmat utama dan pengembang, mengembangkan paragraf pem¬buka, paragraf isi, dan paragraf penutup.
3. Tahap perevisian/perbaikan meliputi mencermati kembali hasil tulisan, menandai bagian yang kurang tepat, mentbah bagian yang kurang tepat sesuai dengan ke¬rangka, bentuk Berta tujuan tulisan, membandingkan hasil perbaikan dengan draft/ buram awal.
4. Tahap penyuntingan/pengeditan meliputi meneliti kembali keutuhan dan kepadu¬an tulisan, menandai kesalahan teknis kebahasaan, menghilangkan atau menam¬bah bagian dalam tulisan, dan membetulkan kesalahan teknis kebahasaan.
5. Tahap penyajian/pemublikasian meliputi mengkreasikan unsur-unsur formal tuli¬san jenis, bentuk, dan ukuran huruf, besar-kecil), mengembangkan media publi¬kasi tulisan jenis dan bentuk sarana; audio, visual, audio visual).
2.1.7 Penilaian Keterampilan Menulis
Penilaian adalah suatu proses untuk mengetahui apakah proses dan hasil pro-gram kegiatan telah sesuai dengan tujua atau kriteria yang telah ditetapkan. Penilaian dapat dilakukan secara tepat jika kita tersedia data yang berkaitan dengan objek peni-lain. Untuk memperoleh data tersebut diperlukan alat penilaian yang berupa peng-ukuran. Penilaian dan pengukuran merupakan dua kegiatan yang saling berkaitan.
Keberhasilan merupakan harapan setiap orang. Demikian juga bagi guru dan
siswa dalam proses pembelajaran. Keberhasilan tersebut akan dapat diketahui dengan
melakukan penilaian atau evaluasi (Pujiati dan Rahmina, 1997:1.1).
Penilaian merupakan salah satu subsisten yang penting dalam sistem pendidi-kan. Penilaian termasuk komponen penting dalam sistem pendidikan karena mencer-minkan perkembangan atau kemajuan pendidikan dari satu waktu ke waktu lain. Se-lain itu, melalui penilaian dapat dibandingkan tingkat pencapaian prestasi pendidikan antara satu sekolah dengan sekolah atau wilayah lainnya.
Menurut Depdikbud penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk mempe-roleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar siswa yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan. Pada dasarnya, yang dinilai adalah program, yaitu suatu kegiatan yang telah direncanakan sebelumnya, lengkap dengan rincian tujuan dari kegiatan tersebut.
Penilaian proses dan hasil belajar bertujuan untuk menentukan ketercapaian tujua pendidikan dan atau tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam kuriku-lum, garis-garis besar program pembelajaran, atau dalam perangkat perencanaan kegiatan pembelajaran lainnya (Depdikbud, 2003:2).
Penilaian merupakan suatu kegiatan yang harus dilakukan oleh guru sebagai bagian dari system pengajaran yang direncanakan dan diimplementasikan di kelas. Komponen – komponen pokok penilaian meliputi pengumpulan informasi, interpres-tasi terhadap informasi yang telah dikumpulkan, dan pengambilan keputusan. Ketiga komponen itu kait mengait dan sebelum melakukannya guru harus menentukan atau merumuskan tujuan penilaian.
Tujuan dan fungsi penilaian khususnya penilaian hasil belajar dapat berma-
cam, yang antara lain adalah (1) mengetahui ketercapaian tujuan pembelajaran, (2)
mengetahui kinerja berbahasa siswa, (3) mendiagnosis kesulitan belajar siswa, (4) memberikan umpan balik (feedback) terhadap peningkatan mutu program mutu program pembelajaran, (5) menjadi alat pendorong dalam meningkatkan kemam-puan siswa, (6) menjadi bahan pertimbangan dalam penentuan jurusan, kenaikan kelas, atau kelulusan, (7) menjadi alat penjamin, pengawasan, dan pengendalian mutu pendidikan. Lebih dari itu, penilaian hasil belajar yang dilakukan secara siste-matis merupakan bentuk akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan kepada masya-rakat.
Penilaian yang baik harus memiliki kriteria atau ciri-ciri terpercaya (reliable),
tepat (valid), dan praktis (Nuraini dalam Supriyadi dkk, 1992:375). Dikatakan terper-
caya (reliable) apabila hasil penelitian dengan alat itu pada siswa yang sama bebe-rapa kali pada siswa yang sama dalam beberapa kali penilaian hasilnya hampir sama, dengan tingkat kesalahan kurang dari 5% (Pujiarti dan Rahmina, 1997:8.7).
Alat penelitian disebut tepat (valid) apabila mampu mengukur apa yang seha-rusnya diukur, dengan kata lain, alat ukur tersebut memenuhi fungsinya sebagai alat ukur. (Pujiarti dan Rahmina, 1997:8.4). Dengan kata lain alat ukur tersebut mampu memenuhi fungsinya sebagai alat ukur.
Menurut Pujiati dan Rahmina (1997:8.4) ada tiga jenis ketepatan atau validitas, yaitu validitas isi (content validity), validitas criteria terkait (criterian related val-idity), dan validitas konstrk (contruct validity). Amran Halim dkk. (1974:31-34 dan Nuraeni dalam Supriyadi dkk. (1992:56) menyebut ada validitas isi, validitas empiris (empirical validity) dan validitas bentuk (face validity).
Validitas isi maksudnya ialah validitas yang menunjukkan suatu alat ukur mampu mengukur hal – hal yang mewakili keseluruhan isi yang harus diukur (Pujiati dan Rahmina, 1997:8.4), atau mampu mengukur bidang aspek keterampilan yang hendak diukur (Nuraeni dalam Supriyadi dkk. 1992:375). Validitas kriteria terkait (ada yang menyebut dengan istilah validitas empiris atau validitas pragmatis) adalah validitas alat ukur ditinjau dari hubungan alat ukur yang sedang disusun dengan alat ukur lain yang dianggap sebagai kriteria. Apabila kriterianya tersebut pada waktu yag bersamaan disebut validitas konkuren, sedangkan apabila kriterianya terdapat pada waktu yang akan datang maka disebut validitas prediktif (Pujiati dan Rahmina, 197:8.6). Validitas konstruk adalah validitas yang didasarkan pada konsep, logika atau konstruk suatu teori (Pujiati dan Rahmina, 1997:8.6). Validitas bentuk adalah validitas berdasarkan perwajahan dari susunan soal (Nuraeni dalam Supriyadi dkk., 1992:376).
Selain harus terpercaya (reliable) dan valid, alat ukur yang baik juga harus
praktis, objektif dan baku. Praktis maksudnya mudah digunakan, hemat dalam biaya dan mudah diadministrasikan. Objektif artinya pemberian skor tidak terpengaruh oleh siapa yang melakukannya dan siapa yang diberi skor. Sedangkan baku berarti petunjuk mengerjakan soal, cara memberi skor, cara menerjemahkan hasil pengukur-
an menjadi bilangan, dan cara menafsikan pengukuran menggunakan bentuk yang baku atau dianggap baku (Pujiati dan Rahmina, 1997:8.11-8.12).
Penyelenggaraan pembelajaran bahasa selalu dipengaruhi oleh pendekatan tertentu dalam ilmu bahasa. Penggunaan pendekatan tertentu akan mempengaruhi penentuan tujuan pembelajaran, metode pembelajaran, dan pengembangan alat eva-luasi yang akan digunakan (Djiwandono, 1997:7).
2.2 Pengalaman pribadi sebagai bentuk tulisan deskripsi
Seiring dengan adanya tujuan rnenulis memunculkan lima jenis wacana dalam sistem retorika, yaitu narasi, deskripsi, eksposisi, persuasi, dan argumentasi. Narasi bertitik tolak untuk menceritakan peristiwa, deskripsi bertolak melukiskan kesan dan hasil observasi, eksposisi mengarah pada pemaparan suatu masalah, persuasi berorientasi untuk membujuk, dan argumentasi berangkat dari keinginan mempertahankan gagasan.
Deskripsi adalah pemaparan atau penggambaran dengan kata-kata suatu ben¬da, tempat, suasana, dan keadaan (Marahimin, 2001:45). Seorang penulls deskripsi mengharapkan pernbacanya, melalui tulisannya, dapat `melihat' apa yang dilihatnya, dapat `mendengar' apa yang didengamya, `mencium' apa yang diciumnya, ‘mencicipi' apa yang dimakannya, `merasakan' apa yang dirasakannya, serta sampai pada 'kesim-pulan' yang sama dengannya. Dari sini dapat disimpulkan bahwa deskripsi merupa-kan hasil dari observasi melalui panca indera yang disampaikan melalui kata-kata.
Ada berbagai cara untuk menuliskan deskripsi, dan perbedaan-perbedaan ini timbul karena pada dasamya tidak ada dua orang manusia yang mempunyai penga¬matan yang sama, dan tujuan pengamatannya juga berbeda-beda. Bentuk deskripsi dibedakan atas dua macam, yaitu deskripsi ekspositoris dan deskripsi impresionitis (Marahimin, 2001:47).
Deskripsi ekspositoris merupakan deskripsi yang sangat logis, yang isinya pada umumnya merupakan daftar rincian yang disusun menurut sistem dari urutan-urutan logis objek yang diamatinya. Deskripsi ini juga sering dikatakan seba-gai deskripsi dengan pengembangan ruang atau spasi. Adapun deskripsi impresioni-tis, sering juga disebut dengan deskripsi simulatif, merupakan deskripsi untuk meng-gambarkan impresi penulisnya atau untuk menstimulir pembacanya.Berbeda dengan deskripsi ekspositoris yang sangat terikat pada objek atau proses yang dideskripsi-kan, deskripsi impresionitis mpresionitis lebih menekankan impresi atau kesan penulisnya.
Ketika dalam deskripsi ekspositoris dipakai urutan-ururtan logika atau urutan¬Lz-utan peristiwa objek yang dideskripsikan, maka dalam deskripsi impresionitis urutan-urutan yang dipakai adalah menurut kuat lemahnya kesan penulis terhadap bagian-bagian objek tersebut. Dalam prakteknya, seorang penulis dapat mengkombi¬nasikan dua cara deskripsi di atas.

2.3 Pendekatan Kontekstual dan Strategi Inkuiri
2.3.1 Pendekatan Kontekstual
Pendekatan kontekstual (contextual leaching and learning) tumbuh dan berkem-
bang di bawah payung filsafat konstraktivisme. Dalam pandangan ini belajar meru-
pakan proses merekonstruksi pengetahuan baru yang berpusat pada diri pembelajar sendiri. Lima elemen belajar yang konstruktivistik, meliputi (1) pengaktifan pengeta¬huan yang sudah ada, (2) pemerolehan pengetahuan baru dengan cara mempelajari secara keseluruhan dulu kemudian memperhatikan detailnya, (3) pemahaman penge¬tahuan dilakukan dengan cara (a) menyusun konsep sementara, (b) melakukan proses
sharing dengan orang lain, dan (c) mengembangkan konsep lebih lanjut.
Pendekatan CTL memiliki tujuh komponen utama yaitu konstruktivisme (con-structivism), menemukan (inquiry), bertanya (questioning), masyarakat-belajar lear-ning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian benar-nya (authentic assessment). Di atas telah disampaikan bahwa ada tujuh komponen dalam pendekatan CTL. Tujuh komponen tersebut sebenarnya dapat dengan mudah diterapkan di kelas, bidang studi apa saja dapat menerapkan CTL, dan dapat diberi-kan pada semua keadaan atau semua situasi dan kondisi. Secara garis besar, penera-pannya adalah; (1) mengembengkan pemikiran bahwa anak akan bekerja sendiri, menemukan sendiri, mengkonstruksikan pengetahuannya, mengimplementasikan pada kehidupan yang nyata, (2) melakukan sejauh mungkin kegiatan menemukan (inquiry) untuk semua topik (3)mengembangkan rasa ingin tabu siswa dengan bertanya, (4) mengkondisikan anak menciptakan masyarakat belajar (belajar dalam. kelompok), (5)menghadirkan, model sebagai yang sebenarnya dengan berbagai cara selama. proses dan hasil akhir. Penerapan CTL seperti pada langkah di atas akan se-makin mudah bila ketujuh kom ponen CTL dapat dipahami dan dilakukan oleh guru.
2.3.2 Strategi Inkuiri
Strategi inkuri merupakan salah satu strategi pembelajaran yang mengede-
pankan kemandirian siswa dalam melakukan proses belajar. Strategi ini merupakan bagian dari implementasi pendekatan kontekstual. Strategi ini juga menerapkan pola berpilir kritis, kreatif, sistamtis, dan ilmiah. Tujuan utamanya agar siswa memiliki kemampuan dalam mencari, memproses, dan menyerap informasi dari sesuatu yang sang dipelajari.
Strategi inkuri adalah strategi pembelajaran dalam pendekatan kontekstual yang memberikan kesempa-tan kepada siswa untuk menemukan sendiri pengetahuan yang sebelumnya belum mereka miliki. Tujuan utama membantu mengembangkan intelektual dan ketrampi-lan siswa dari berbagai aktivitas mulai dari munculnya pertanyaan-pertanyaan ten-tang suatu hal sampai dengan menyelesaikannya.
Sehubungan dengan aktivitas pembelajaranjase atau tahapan pemebela-jaran dengan strategi inkuiri dapat dikemukakan sebagai berikut.
Tahapan pertama : Menyajikan masalah
Menjelaskan prosedur inkuiri
Menyajikan sistuasi yang bertentangan atau berbeda.
Tahapan kedua : Mengumpulkan dan mengkaji bahan
Memeriksa hakikat objek dan kondisi yang dihadapi Memeriksa hat-hat yang terjadi pada objek
Tahap keiiga : Mengkaji data dan eksperimental
Mengisolasi variabel yang sesuai
Merumuskan hipotesis dan mengujinya
Tahap keempat : Mengorganisasikan dan merumuskon kesimpulan
Menarik kesimpulan
Tahap kelima : Menganalisis proses inkuiri
Menganalisis prosedur inkuiri dan mengembangkan prosedur yang lebih efektif
Sehubungan dengan pelaksanaan pembelajaran di kelas hat yang perlu diper¬bambangkan, yakni (1) interaksi antara guru dan siswa, dan (2) pesan guru. Interaksi antara guru dan siswa mengarah pada prosedur kerja sama antara guru-siswa, siswa¬siswa, dan siswa-guru. Pesan guru dalam penerapan strategi ini adalah sebagai: (a) fasilitator yang menciptakan kondisi belajar kondusif, (b) motivator yang senantiasa¬ mendorong siswa untuk aktif dalam belajar, dan (c) informan yang menyediakan ber¬bagai keperluan informasi bagi siswa.
2.3.3 Pembelajaran Deskripsi Melalui Strategi Inkuiri
Berkaitan dengan implementasi strategi inkuri dalam pembelajaran menulis pengalaman pribadi di sekolah menengah pertama, maka langkah-langkah yang diternpuli guru melipui, lima tahap sebagai berikut.
1. Merumuskan Masalah
Pada awalnya guru menjelaskan arah dan tujuan pembelajaran yang dilakukan bersama. Guru memperkenalkan substansi pembelajaran melalui teks wacana tulisan pengalaman pribadi yang dibagikan oleh guru ataupun yang telah dibawa oleh siswa. Melalui pengantar guru tersebut mulai muncul kesadaran siswa tentang sesuatu yang akan dipe¬bjari. Kesadaran tersebut terekam dalam benak siswa dalam bentuk pertanyaan¬-pertanyaan. Pada saat inilah muncul permasa-lahan dan upaya/motivasi siswa untuk mecahkan permasalahan tersebut melalui belajar.
Kemudian guru mengajukan pertanyan lanjutan, misalnya mengapa ka-lian ingin mengetahui masalah-masalah itu? Terdiri dari atau dapat diklasifikasikan termasuk dalam kategori masalah apa? Bagaimana cara pemecahannya? Sebagai akhir tahap ini, guru meminta dan mengarahkan siswa untuk mencemati kembali masalah-masa¬lah yang sudah ditulis. Hal ini penting untuk proses belajar pada tahap selanjutnya.
2. Menetapkan Jawaban Sementara
Pada tahap ini siswa diberi motivasi untuk memberi penjelasan atau jawaban terhadap masalah-masalah tentang pengalaman pribadi. Siswa diberi tugas baik indivudual maupun kelompok untuk memberi jawaban atau pernecahan masalah tersebut. Untuk membantu siswa merumuskan hipotesis atau jawaban sementara, guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan lanjutan.
3. Pengumpulan Data
Pengumpulan data oleh siswa berkaitan dengan trieneruskan atau mening-gal¬kan jawaban sementara. Guru perlu menginfomasikan kepada siswa untuk menggu- nakan berbagai media belajar sebagai sumber belajar. Kegiatan siswa dapat dilakukan secara individual maupun kelompok. Selama tahap ini untuk mengetahui kemajuan belajar siswa, guru meminta secara berkala siswa melapor-kan basil pengumpulan informasinya.
4. Mengkaji Jawaban
Untuk mengkaji hasil kerja siswa menyelesaikan masalah-maslah yang ber¬kaitan dengan pengalaman pribadi, guru membimbing siswa untuk saling menu-kar basil pe¬kerjaan. Masing-masing siswa mengoreksi berbagai aspek hasil kerja siswa lainnya sesuai dengan rambu-rambu yang dikemukakan guru. Jawaban-jawaban yang telah sesuai (disertai bukti-bukti yang kuat) diberikan penguatan, sedangkan yang tidak diberikan catatan perbaikannya.
5. Menarik Kesimpulan
Para siswa dengan bimbingan guru mencoba untuk mengkombinasikan saran yang dituliskan dengan tu.juan masing-masing memecahkan masalah. Ber-kaitan den¬gan pengalaman pribadi, maka masalah-masalah yang maksud adalah struktur. judul isi, struktur kebahasaan (kosakata, ejaan, tanda baca, unsur serapan, kalimat, paragraf, kelengkapan isi).
Siswa dipandu guru untuk menarik generalisasi mikro; yakni berkaitan de¬ngan pengalaman pribadi yang dimiliki secara individual dan generalisasi makro; kesimpulan ahir tentang berbagai aspek tulisan pribadi mulai dari perencanaan, penyusunan, sampai penilaian.

BAB III
METODE PENELITIAN

Pada bab ini uraian tentang (1) rancangan penelitian, (2) populasi dan Sampel penelitian (3) instrumen penelitiaan, (4) prosedur pengumpulan data, dan (5) teknik analisi data.
3.1 Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian adalah strategi pengaturan latar penelitian, agar peneliti memperoleh data yang valid, sesuai karakteristik variabel dan tujuan penelitian. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini ialah rancangan eksperimental. Rancangan eksperimental digunakan untuk meneliti hubungan sebab akibat antara dua variabel atau lebih
Adapun rancangan eksperimen yang dipakai adalah eksperimen dengan desain one group pre test – post test desain, dimana tujuan desain ini adalah digunakan untuk mengetes, mengecek, dan menverivikasikan hipotesa tentang ada tidaknya perbedaan siswa yang diajar dengan menggunakan strategi inkuiri dalam menulis pengalaman pribadi dengan siswa yang diajar dengan metode pembelajaran konvensional pada siswa kelas VII SMP Negeri 2 Ngawi tahun pelajaran 2008/2009. Rancangan dapat digambarkan dibawah ini :
O1 X O2
Pre Test Treatment Post Test
Alasan digunakannya desain tersebut adalah pada awal penelitian ini pengambilan data diambil dari dua tahap, yaitu tahap awal dengan cara belum diberikan perlakuan / tretment yang disebut pre test dan pengambilan data setelah diberikan perlakuan / treatment yang disebut post test, untuk kemudian keduanya diambil kesimpulan dengan metode statistik. Dimana tes dilakukan dua kali yaitu test awal (pre test) sebelum diberikan perlakuan pembelajaran dan tes akhir (post test) sesudah diberikan perlakuan pembelajaran. Hal ini dilakukan untuk mengetahui tingkat keefektifan strategi inkuiri terhadap kemampuan menulis pengalaman pribadi antara siswa yang diberi perlakuan dengan siswa yang tidak diberi perlakuan dengan strategi inkuiri.
3.2 Populasi dan Sampel
3.2.1 Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian” (Arikunto, 1991:102). Sedang
kan Komaruddin menyatakan bahwa “populasi adalah sekumpulan kasus yang memenuhi syarat-syarat tertentu yang berkaitan dengan masalah penelitian. Kasus-kasus tersebut dapat berupa orang, barang, binatang, hal, atau peristiwa” (1987:203)
Di dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah siswa kelas VII-H SMP Negeri 2 Ngawi. Oleh karena itu dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh siswa kelas VII-H SMP Negeri 2 Ngawi yang berjumlah 40 siswa.
3.2.2 Sampel
Mengingat tujuan penelitian ini hanya untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan siswa yang diajar dengan menggunakan strategi inkuiri dalam menulis pengalaman pribadi dengan siswa yang diajar dengan metode pembelajaran konvensional pada siswa kelas VII SMP Negeri 2 Ngawi tahun pelajaran 2008/2009 maka sample yang digunakan adalah keseluruhan dari populasi yakni kelas VII-H yang berjumlah 40 siswa. Teknik penetapan sample ini di dasarkan atas pendapat Suharsimi Arikunto (1998:120) yang menyatakan bahwa “Apabila subyeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semua sehingga penelitian merupakan penelitian populasi.”
Sedangkan teknik pengambilan sampling adalah dengan total sampling, alasan digunakan total sampling, karena jumlah subyek dari populasi kurang dari 100 subyek, sehingga sampel diambil semua populasi yang ada, dengan harapan semua populasi dapat diberikan perlakuan penelitian dengan merata.
3.3 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat untuk mengumpulkan data. Dalam penelitian ini digunakan tagihan sebagai alat pengumpul data. Tagihan adalah konsep penilaian yang digunakan untuk menagih kepada siswa perihal yang berkaitan dengan upaya untuk mengetahui standar kompetensi, kompetensi darar, dan indikator yang dicapai siswa sesudah mengikuti suatu kegiatan pembelajaran (Depdiknas, 2004:21).
Jenis tagihan yang digunakan dalam penelitian ini berupa non tes. Jenis tagihan non tes dapat berupa lembar observasi, untuk mengetahui tingkat kemampuan menulis pengalaman pribadi selama kegiatan pembelajaran berlangsung.
Untuk mengatasi kesukaran dalam melakukan penilaian terhadap kemampuan menulis pengalaman pribadi siswa, dalam penelitian ini instrumen penilaian yang digunakan dimodifikasi sesuai kebutuhan penelitian. Fokus penilaian yang dimaksud dipilah ke dalam tahapan menulis yakni pra-menulis, pemburaman, perevisian, dan penyuntingan.
Lembar evaluasi digunakan untuk mengukur proses dan basil belajar menulis pengalaman pribadi siswa melalui strategi inkuiri. Data yang terkumpul berupa skor kemampuan menulis pengalaman pribadi siswa digunakan sebagai tolok ukur keberhasilan penelitian tindakan. Lembar ini berbentuk panduan evaluasi basil belajar siswa. Di dalamnya memuat kriteria jawaban dan pensekoran yang di dasarkan atas intrumen berikut.
Tabel 3.2 Kriteria Penilaian Kemampuan Menulis Pengalaman Pribadi
No KRITERIA JAWABAN PENSEKORAN
Bobot jawaban Rentang skor
1 Kesesuaian judul dengan isi
o Sesuai
o Cukup sesuai
o Kurang sesuai
o Tidak sesuai
4
2 Kelengkapan isi
o sesuai
o cukup sesuai
o kurang sesuai
o tidak lengkap
3 Ketepatan penggunaan huruf kapital, ejaan dan tanda baca :
o tidak ada kesalahan
o sedikit kesalahan
o banyak kesalahan
o semua salah
4 Ketepatan pilihan dan penggunaan kosakata
o Kosakata sesuai dengan ragam jurnalistik
o Kosakata cukup sesuai dengan ragam jurnalistik
o Kosakata kurang sesuai dengan ragam jurnalistik
o Semua kosakata tidak sesuai dengan ragam jurnalistik
4
5 Ketepatan pilihan dan penggunaan kalimat
o Kalimat dapat dipahami dan saling bertautan
o Kalimat cukup dapat dipahami dan cukup bertautan
o Kalimat kurang dapat dipahami dan kurang bertautan
o Kalimat tidak dapat dipahami dan tidak bertautan
4
6 Isi keseluruhan
o jelas dan lengkap
o cukup jelas dan cukup lengkap
o kurang jelas dan kurang lengkap
o tidak jelas dan tidak lengkap
4
7 Kerapian penyajian
o terbaca, rapi, dan bersih
o terbaca, rapi dan kurang bersih
o terbaca, tidak rapi dan tidak bersih
o tidak terbaca, tidak rapi dan tidak bersih

Skor Maksimal 28

Untuk menentukan nilai menulis pengalaman pribadi maka peneliti menggunakan rumus sebagai berikut:
Nilai =
3.4 Prosedur Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode pengumpulan data sebagai berikut :
3.4.1 Metode Tes
Tes adalah alat yang dipergunakan untuk menilai hasil-hasil pelajaran yang telah diberikan dalam jangka wakti tertentu. Dalam penelitian ini metode tes berupa pertanyaan yang harus dijawab atau dikerjakan, sedangkan dalam penelitian ini metode tes yang digunakan untuk memperoleh data tentang kemampuan menulis pengalaman pribadi yang diimplikasikan pada pre test dan post test. Tes yang digunakan dalam pretest dan postest ini adalah sama yakni menuliskan pengalaman pribadi. Hanya saja keduanya dilakukan dalam kurun waktu yang berbeda.

3.4.2 Metode Observasi
Metode observasi yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah sebagai metode bantu yang berfungsi untuk melengkapi data-data yang sekiranya belum tercakup dalam tes. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode observasi partisipan, karena peneliti terlibat langsung dalam proses belajar Observasi digunakan untuk mendapatkan data tentang proses pelaksanaan pembelajaran dengan strategi inkuiri pada pembelajaran menulis pengalaman pribadi yang dilakukan oleh subjek. Sebagai instrument digunakan pedoman observasi yang berbentuk check list. Sedangkan langkah-langkah penyusunan pedoman obserasi adalah :
1) Observasi pada penelitian ini adalah dengan observasi sistematis, dimana setiap obsever sudah diberikan item-item yang akan diobservasikan.
2) Observasi pada penelitian ini adalah digunakan untuk mengamati siswa dalam situasi pembelajaran dengan menggunakan strategi inkuiri.
3) Item observasi mencakup pembelajaran variabel strategi inkuiri.
Untuk memperoleh data yang benar-benar objektif, peneliti meminta bantuan dua orang guru bahasa Indonesia untuk melakukan observasi tentang kemampuan menulis pengalaman pribadi dengan instrument yang telah disiapkan.
3.5 Teknik Analisis Data
Untuk membuktikan benar tidaknya hipotesis peneliti yang akan diajukan maka setelah data terkumpul diadakan pengolahan data sehingga dapat menghasilkan kesimpulan, teknik analisis data merupakan cara yang digunakan dalam mengolah dan menganalisis data yang diperoleh dalam penelitian, guna membuktikan hipotesis yang telah diajukan.
Pengolahan dan analisis ini sangat penting dalam penelitian, utamanya apabila diinginkan kesimpulan tentang masalah yang diteliti. Sebab data kasar yang tidak dianalisis tiak memberikan arti dalam implikasinya, maka perlu diadakan pengolahan dan analisis dengan menggunakan metode dan teknik tertentu, sebagai teknik analisis data penelitian ini digunakan teknik analisis secara kuantitatif.
Teknik analisis data secara kuantitatif pada penelitian ini dilakukan melalui pengujian persyaratan analisis, dengan teknik analisis uji t-test sample for means (uji kesamaan dua rata-rata yang berpasangan) dengan rumus sebagai berikut.

Keterangan :
t = Hasil uji t
MD = Mean dari defference
SEMD = Standart error dari Mean defference (Sudijono, tt:295)
Alasan digunakannya uji t adalah karena hasil dari data penelitian yang diperoleh dari pre test dan post test akan dibandingkan, sehingga akan didapatkan hasil penelitian yang diharapkan. Dan setelah mengetahui nilai t maka langkah selanjutnya adalah menguji hipotesis penelitian yakni
1) Merumuskan terlebih dahulu Hipotesis alternative (Ha) dan Hipotesis nihilnya (Ho) yakni:
a. Hipotesis Null (Ho) yang berbunyi tidak ada perbedaan siswa yang diajar dengan menggunakan strategi inkuiri dalam menulis pengalaman pribadi dengan siswa yang belajar melalui pembelajaran konvensional pada siswa kelas VII SMP Negeri 2 Ngawi tahun pelajaran 2008/2009.
b. Hipotesis Alternatif (Ha) yang berbunyi ada perbedaan siswa yang diajar dengan menggunakan strategi inkuiri dalam menulis pengalaman dengan siswa yang belajar melalui pembelajaran konvensional pada siswa kelas VII SMP Negeri 2 Ngawi tahun pelajaran 2008/2009.
2) Menguji signifikansi t o, dengan cara membandingkan besarnya t o ( ”t” hasil observasi atau ”t” yang tercantum dalam Tabel Nilai ”t”), dengan terlebih dahulu menetapkan degrees of freedomnya (df) atau derajat kebebasannya (db), yang dapat diperoleh dengan rumus: df atau db = N-1.
3) Mencari harga kritik ”t” yang tercantum pada Tabel Nilai ”t” dengan berpegang pada df atau db yang telah diperoleh, baik pada taraf signifikansi 5% ataupun taraf signifikansi 1%.
4) Melakukan perbandingan antara t o dan t t, dengan patokan sebagai berikut :
a. Jika t o lebih besar atau sama dengan t t maka Hipotesa Nihil ditolah; sebaliknya Hipotesa alternatif diterima atau disetujui. Berada antara kedua variabel yang sedang kita selidi perbedaaannya, secara signifikan memang terdapat perbedaan.
b. Jika t o lebih kecil daripada t t maka Hipotesa Nihil diterima atau disetujui; sebaliknya Hipotesa alternatif ditolak. Berarti bahwa perbedaan antara variabel I dan variabel II itu bukanlah perbedaan yang berarti, atau bukan perbedaan yang signifikan.



















DAFTAR PUSTAKA


Arsyad, Azhar. 2000. Media Pengajaran. Cet. Ke-2. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Akhadiah, S. 1989. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdikbud

Sabarti Akhadiah, Maidar G. Arsjad, Sakura H. Ridwan. 1996. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.

Ahmadi, M. 1989. Penyusunan dan Pengembangan Paragraf. Malang: YA3 Malang.

Ahmadi, M. 1990. Strategi Belajar Mengajar Keterampilan Berbahasa dan Apresiasi Sastra. Malang:YA3

Ashadi, P. 1998. Gambar sebagai media Pembelajaran, Bandung:Sinar Baru

Aminudin, 1996. Pendekatan Pembelajaran. Bandung : Rosdakarya

Arief, N. F. 2006. Ketrampilan Berbahasa. Bahan Matakuliah Bahasa Indonesia Lanjut. Malang: Tidak Dipublikasikan

Arief, N. F. 2006. Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia. Bahan Matakuliah Bahasa Indonesia lanjut. Malang : Tidak Dipublikasikan

Budinuryanta, JM. Kasurijanta, dan Imam Koemen. 1998.Pengajaran Ketrampilan Berbahasa. Jakarta: Depdikbud.

Depdiknas. 2003. Kurikulum Bahasa Indonesia 2004 SD. Jakarta: Depdiknas

Depdiknas.2002. Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi guru mata Pelajaran bahasa Indonesia. Penelitian Tindakan kelas. Jakarta: Depdiknas

Depdiknas.2003. pelatihan Terintegrasi berbasis kompetensi guru mata pelajaran bahasa Indonesia.Berbicara. modul : Ind A. 02. jakarta : Depdiknas

Depdiknas. 2003. Kurikulum 2004, Standar kompetensi Mata pelajaran bahasa dan Sastra Indonesia untuk Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah. (Draft final). Jakarta : Depdiknas

Gorys, Keraf. 1994. Komposisi: Sebuah Pengantar Kemampuan Berbahasa. Ende: Flores.
Hadiyanto. 2001Membudayaakan Kebiasaan Menulis : Sebuah Pengantar. Jakarta : Fikahati Aneska.

Djiwandono, Soenardi. 1996. Tes Bahasa dalam Pengajaran. Bandung: ITB.

Purwo, Bambang Kaswanti.1997.Pokok-pokok Pengajaran Bahasa dan Kurikulum 1994. Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdikbud.

Hasibuan, Mujiono. 1989. Proses belajar Mengajar Keterampilan Dasar Mikro. Bandung : Rosdakarya.

Gorys, Keraf. 1994. Komposisi: Sebuah Pengantar Kemampuan Berbahasa. Ende: Flores.

Marahimin, Ismail. 2001. Menulis Secara Populer. Jakarta: Pustaka Jaya.

Nurhadi. 1987. Membaca Cepat dan Efektif. Bandung : Sinar Baru

Nurhadi, dkk. 2004. Pembelajaran Bahasa Indonesia Melalui Pendekatan Kontekstual. Malang : UM Press

Nurhadi dan Roekhan. 1987. Kajian Bahasa, Sastra dan Pengajarannya. Malang: FPBD IKIP

Nurgiyantoro, B. 1987. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta : BPFE

Parera, J. D. 1998. Belajar Mengemukakan Pendapat. Jakarta : Gramedia

Peter, Bidlr, G. 1992. Writing Matter. New York: Mac Millan Comp.

Pujiati Suyoto dan Iim Rahmania. 1998. Materi Pokok Evaluasi Pengajaran Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdikbud.

Sadiman, Arief. 1986. Media Pendidikan, Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya. Jakarta: Rajawali.

Semi, Atar, M. 1990. Menulis Efektif. Padang: Angkatan Raya.

Koemen, Imam. 1997. Pembelajaran Ketrampilan Menulis. Dalam Pembelajaran Bahasa. Jakarta: Depdikbud.

Sabarti dkk. 1997. Menulis I. Jakarta: Depdikbud.

Syafi’i, I. 1994. Retorika dalam Menulis. Jakarta : Depdikbud

Suparno. 1998. Pengajaran Bahasa Indonenesia di Sekolah. Jakarta: Erlangga.

Tarigan, Henri Guntur. 1986. Menulis Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa. Bandung: Tarsito.

Tarigan, D. 1987. Membina Ketrampilan Menulis Paragraf dan Pengembangannnya. Bandung : Angkasa

The Liang Gie. 1992. Pengantar Dunia Karang Mengarang.Yogjakarta: Liberty.

Tompkisn, G. E. 1994. Teaching Writing Balancing Process and Product. New York : Macmilan College Publishing Company.

Wiriatmadja, Rochiati. 2005. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Rosdakarya

Widyamartaya, A. 1990. Seni Menuangkan Gagasan. Yogjakarta: Kanesius.

Widodo Hs. Dkk. 1994. Pembelajaran Ketrampilan Menulis Terpadu. Jakarta: Depdikbud.




0 komentar: